Metode Riset Bisnis
Profil Organisasi
Warung makan Bude
Struktur organisasi
Bu’de sebagai pemilik kantin tersebut yang berhak memberikan wewenang apapun dalam proses pembuatan makanan
Ririn adalah asisten bu’de yang membantu dalam pembuatan masakan di kantin tersebut
Eko tugas eko di dalam kantin tersebut adalah membersihkan makanan yang sudah di makan dalam arti eko yang mencuci piring-piring yang sudah digunakan
Aktivitas KP
Membantu bu’de dan meniliti bagaimana cara dalam menjadi seorang pemimpin dalam suatu organisasi atau menjadi pemilik kantin bagaimana cara bude dalam mengatur keuangan yang dimiliki di kantin bu’de ini dan sesekali membantu ririn untuk memasak dan membantu eko dalam mencuci piring. Lamanya KP meneliti ini selama 3 hari berturut-turut.
Hasil
Kesimpulan yang saya dapatkan selama saya meneliti di warung makan ini adalah para mahasiswa jika sudah merasa cocok dengan makannya mereka akan senantiasa mendatangi kembali warung bu’de ini. Mungkin perubahan menu makanan pun harus dilakukan agar mahasiswa tidak merasa bosan dalam menikmati makanan di warung bu’de ini.
Minggu, 23 Oktober 2011
metode riset bisnis bab 1
BAB I
PENDAHULUAN restoran mang kabayan
I.1 Latar Belakang Masalah
Makan dan minum adalah kebutuhan dasar manusia di manapun mereka berada. Dalam masyarakat tradisional, makan dan minum lebih untuk memenuhi kebutuhan tubuh dari rasa lapar dan haus. Mereka mencari bahan-bahan makanan dan minuman yang telah disediakan oleh alam, baik berupa binatang buruan atau tanaman. Dengan teknik pengolahan dan bumbu-bumbu yang masih sangat sederhana, mereka menyajikan makanan dan minuman untuk anggota keluarga atau anggota komunitas mereka. Pengetahuan mengenai kandungan gizi dan vitamin yang terkandung dalam bahan makanan, teknik memasak yang bisa membuat rasa makanan dan minuman menjadi lezat dan cara penyajian yang menarik belum berkembang dengan baik.
Berbeda halnya dengan masyarakat moderen di mana urusan makan dan minum tidak hanya semata-mata untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga. Masyarakat moderen telah memberikan nilai lebih pada makanan dan minuman selain untuk memenuhi kebutuhan tubuh tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup (life style). Seiring dengan itu, berkembang pula ilmu membuat dan menyajikan makanan dan minuman (culinary) untuk memenuhi kebutuhan manusia moderen yang suka mencari hiburan di luar rumah bersama anggota keluarga dengan cara makan-makan di luar (dining out) , menjamu tamu atau relasi, baik dalam bentuk jamuan di rumah atau di tempat-tempat makan khusus yang kemudian dikenal sebagai rumah makan atau restoran.
Karena menjadi bagian tak terpisahkan dari kebutuhan dasar manusia, banyak orang meyakini bahwa bisnis makanan dan minuman tak akan pernah mati. Selagi manusia masih tinggal di muka bumi, mereka akan tetap membutuhkan makanan dan minuman. Dalam kondisi damai atau perang, dalam kondisi ekonomi suatu negara sedang baik atau tengah terkena krisis / resesi, semua orang tak akan melupakan makan dan minum. Karena itu, bisnis ini termasuk kebal krisis (recession proof).
Hal ini bisa ditunjukkan ketika Indonesia ditimpa krisis ekonomi yang sangat serius pada tahun 1997/1998, bisnis makanan dan minuman justru tumbuh pesat. Di Jakarta dan di berbagai kota besar muncul pusat-pusat jajanan yang dibuka oleh para pengusaha dadakan, yaitu para pekerja atau karyawan yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena tempat kerjanya tutup atau bangkrut karena terkena krisis ekonomi yang dipicu oleh krisis moneter.
Memasuki tahun 2000-an, bisnis makanan dan minuman di Indonesia semakin tumbuh pesat. Selain didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang cukup bagus dan stabil , bisnis ini juga didorong oleh perkembangan selera konsumen. Iklim usaha rumah makan atau restoran yang sangat bagus ini dipengaruhi oleh beberapa factor. Pertama, memasuki era 2000-an liputan media massa, baik cetak dan elektronik terhadap dunia kuliner sangat pesat. Saat ini hampir semua stasiun TV, media cetak dan media online porsi pemberitaan atau tayangan yang cukup banyak mengenai dunia kuliner. Bahkan di media cetak ada media yang mempunyai spesifikasi khusus memuat berbagai hal mengenai dunia kuliner.
Kedua, sebagaimana telah disinggung di atas, dunia kuliner telah berkembang sebagai bagian dari gaya hidup (life style) manusia moderen. Maka berkembang semboyan YOU ARE WHAT YOU EAT. Apa yang Anda makan, menunjukkan siapa jati diri Anda dan mencerminkan citra dan status Anda di msyarakat. Banyak keluarga kelas menengah ke atas yang menyisihkan anggaran khusus yang dialokasikan untuk aktivitas makan-makan di luar bersama keluarga. Jika di waktu lalu pembicaraan-pembicaraan bisnis lebih banyak dilakukan di kantor, saat ini sudah umum jika pembicaraan bisnis antara satu orang dengan relasi atau mitra bisnisnya dilakukan di restoran atau tempat makan. Banyak pusat perbelanjaan atau mal yang di waktu lalu menempatkan tempat makan (food court) di tempat yang kurang strategis, saat ini banyak mal menengah ke atas yang menempatkan tempat makan di posisi yang sangat strategis dan didisain secara eksklusif. Hal itu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan tempat makan yang nyaman dan menyajikan menu-menu yang enak dan variatif. Ketiga, sebagian masyarakat menilai bahwa bisnis kuliner telah berkembang menjadi bagian dari ekonomi kreatif yang mendapat dukungan berupa iklim usaha dan berbagai macam aturan yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya bisnis ini. Sebagai bagian dari ekonomi kreatif, dunia kuliner telah berkembang sedemikian pesat dalam hal penciptaan aneka menu makanan dan minuman baru, teknik-teknik penyajian yang baru dan sebagainya.
Tak bisa dimungkiri bahwa usaha rumah makan, restoran atau kafe telah berkembang pesat di Indonesia dalam kurun 20 tahun belakangan ini. Di kota-kota besar selain banyak berdiri restoran yang dimiliki oleh pengusaha lokal dan nasional, belakangan juga banyak berdiri restoran yang menjadi cabang atau bagian dari jaringan restoran asing. Menurut data dari situs binaukm.com, jumlah restoran atau rumah makan di Indonesia pada tahun 2011 ini telah mencapai sekitar 250.000 unit. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 36.000 yang berbentuk badan hokum. Dari jumlah itu, hanya sekitar 10.000 yang masuk kategori usaha restoran yang mapan dan kuat. (binaukm.com).
Berdasarkan jenis menu atau makanan dan minuman yang dijual, di Indonesia terdapat tiga kategori besar rumah makan atau restoran. (Yasra Muhtarom, Prospek Bisnis Restoran Franchise, Makalah pada Seminar Menumbuhkan Entrepreuneurship di Kalangan Mahasiswa, Universitas Paramadina Jakarta, 15September 2006). Ketiga jenis usaha rumah makan atau restoran tersebut :
1) Restoran yang menjual menu utama makanan atau minuman tradisional asli Indonesia. Meskipun tidak ada data yang mampu menjelaskan berapa persen dari total bisnis rumah makan atau restoran yang menjual jenis menu utama ini, namun berdasarkan pengamatan empiris, persentase restoran ini cukup dominan. Menu yang mereka jual biasanya mengambil pilihan dari kelompok etnis tertentu yang memiliki tradisi kuliner yang kuat. Dari sini lahirlah restoran dengan spesifikasi menu seperti masakan Jawa, Sunda, Padang, Manado, Batak, Melayu, Makassar atau Aceh. Untuk satu jenis retoran dengan menu masakan Jawa saja, misalnya , terdapat berbagai varian lagi seperti Jawa Timuran, Jawa Tengahan atau Yogyakarta.
2) Restoran yang menjual menu Indonesia yang dipengaruhi tradisi kuliner asing.
Yang termasuk kategori restoran ini adalah mereka yang menjual menu masakan Cina (Chinese Food), masakan Arab atau Timur Tengah atau masakan India. Jenis restoran ini bisa tumbuh dan berkembang baik di Indonesia selain jumlah populasi masyarakat keturunan asing tersebut cukup besar, relasi dan interaksi masyarakat Indonesia sudah cukup lama dengan kelompok etnis tersebut sehingga banyak masakan seperti bakmi, bakso, nasi kebuli, dan kari telah lama diadopsi oleh menjadi bagian dari tradisi dan kekayaan kuliner Indonesia.
3) Restoran yang menjual menu asing
Restoran jenis ini di antaranya adalah restoran yang merupakan jaringan dari raksasa restoran asing. Mereka masuk ke Indonesia bekerja sama dengan pengusaha nasional dan biasanya dikembangkan dengan pola usaha waralaba (franchise). Beberapa nama restoran besar yang masuk kategori ini misalnya Mc Donald’s, Pizza Hut, Kentucky Fried Chicken (KFC) , Burger King, Hoka Hoka Bento dan sebagainya. Berdasarkan perjanjian khusus, beberapa jaringan restoran itu setelah masuk ke Indonesia juga berusaha menyesuaikan diri dengan karakter konsumen Indonesia. Di restoran Mc Donald’s, misalnya, tak hanya menjual burger yang menjadi menu andalan mereka di seluruh dunia, tetapi juga bisa ditemui menu seperti nasi dan ayam goreng yang hanya bisa ditemukan di Mc Donald’s di Indonesia. Begitu juga seperti restoran KFC yang menjual nasi yang juga hanya bisa ditemukan di KFC Indonesia.
Beberapa restoran yang menjual menu makanan asing belakangan ini juga banyak yang masuk ke Indonesia seperti restoran yang menjual menu masakan Korea, Jepang, Perancis, Amerika Serikat, Vietnam, Italia atau Thailand. Selain membidik atau mencari sasaran konsumen warga negara masing-masing yang tinggal dan bekerja di Indonesia, restoran-restoran seperti itu juga membidik segmen masyarakat asing yang melakukan perjalanan bisnis atau wisata ke Indonesia, atau orang Indonesia yang memang sudah akrab dengan jenis-jenis menu makanan dari negara-negara tersebut.
Dilihat dari potensi pasarnya, bisnis rumah makan atau restoran di Indonesia memang sangat besar. Dan sebagian besar dari mereka adalah konsumen yang tinggal perkotaan yang berkisar 40% dari total jumlah penduduk Indonesia. Namun demikian, peningkatan jumlah pengusaha yang memasuki bisnis ini membuat persaingan semakin ketat. Meningkatnya intensitas persaingan bisa mengarah pada suasana bisnis yang tidak sehat dan terancamnya eksistensi usaha-usaha restoran yang sudah ada. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh DR Lili Adiwibowo, Dosen Universitas Pendidikan Bandung menunjukkan bahwa intensitas persaingan yang meningkat yang ditandai oleh peningkatan suplai (meningkat pesatnya kehadiran restoran-restoran baru ) di suatu kota berkorelasi dengan menurunnya tingkat loyalitas konsumen kepada suatu restoran. (DR Lili Adiwibowo, Mengukur Tingkat Loyalitas Konsumen Restoran, Studi Kasus Usaha Restoran di Kota Bandung, 2006).
Menurut Lili,jumlah usaha restoran yang sangat banyak membuat konsumen yang memiliki “loyalitas total” terhadap suatu restoran semakin tipis. Sebagian besar konsumen memiliki perilaku selalu ingin mencoba menu-menu atau suasana restoran yang baru yang sering diistilahkan sebagai “mengeksplorasi rasa”. Kalaupun terdapat konsumen yang loyal, mereka termasuk dalam kategori advocates, yaitu mereka loyal terhadap suatu restoran dan memberikan rekomendasi kepada teman, kerabat serta orang lain atas produk yang ditawarkan suatu restoran. Akan tetapi hal itu belum menjamin mereka tetap loyal dan kebal terhadap penawaran pesaing. Karena apabila ada penawaran yang lebih menarik dari restoran lain dan memberikan nilai yang lebih baik dibandingkan dengan cost (biaya) yang dikeluarkan , mereka cenderung switch atau berpindah.
Di sisi lain, berdasarkan informasi dari para pelaku bisnis restoran, dalam operasionalisasinya pada kurun satu tahun usaha restoran juga memiliki siklus-siklus waktu di mana terdapat bulan-bulan yang termasuk kategori ramai (peak season) dan ada pula bulan-bulan yang termasuk dalam kategori sepi (low season). Pada bulan-bulan seperti saat liburan panjang sekolah adalah termasuk bulan-bulan yang ramai dan puncak aktivitas bisnis usaha restoran akan tercapai pada bulan-bulan Puasa Ramadhan dan beberapa minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Pada bulan Ramadhan biasanya banyak aktivitas makan di luar rumah oleh rumah tangga atau kantor- kantor yang dikemas dalam acara buka puasa bersama dan setelah itu diikuti dengan merayakan Idul Fitri. Adapun bulan-bulan yang tergolong sepi adalah sekitar satu bulan setelah aktivitas Tahun Ajaran Baru dimana orang tua banyak mengeluarkan uang untuk biaya masuk sekolah dan pembelian peralatan sekolah. Aktivitas usaha restoran juga biasanya sepi dua bulan menjelang datangnya bulan Puasa Ramadhan karena sebagian besar orang sedang sibuk mempersiapkan berbagai kebutuhan menyambut bulan Puasa dan Idul Fitri. Bisnis restoran juga biasanya sepi setelah dua minggu dari Lebaran karena kondisi keuangan telah “terkuras” untuk merayakan Lebaran.
Karakteristik usaha restoran yang seperti itu membuat para pelaku usaha ini harus mengantisipasinya sejak awal ketika memutuskan masuk ke bisnis restoran. Salah satu antisipasi tersebut adalah dengan merancang strategi marketing (pemasaran) yang baik dan tepat dan melaksanakan strategi tersebut dengan konsisten. Tanpa langkah itu, maka sebuah restoran tidak akan mampu menjaga arus pengunjung dan akibatnya berdampak pada grafik penjualan yang naik turun secara tajam. Pemilihan strategi marketing yang baik dan menjalankan strategi tersebut dengan tepat dan konsisten adalah upaya untuk tetap menjaga dan meningkatkan kinerja penjualan dari waktu ke waktu.
Dalam merancang strategi pemasaran tentu harus memikirkan empat factor dasar yang menjadi pertimbangan agar efektif dan efisien, yaitu 4P (Product, Price, Promotion dan Place). Pada penulisan Laporan Kerja Praktek (LKP) ini, penulis akan memfokuskan diri pada aspek Promosi
Promosi (Promotion) menurut Tjiptono “…………adalah suatu jenis komunikasi pemasaran, artinya aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk dan atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan-perusahaan yang bersangkutan”. (Tjiptono , 2001 : 219)
Adapun tujuan perusahaan melakukan promosi, menurut Tjiptono adalah menginformasikan (informing), mempengaruhi dan membujuk (persuading), serta mengingatkan (reminding) pelanggan tentang perusahaan dan bauran pemasarannya. Adapun menurut Philip Kotler (Kotler , 2001 : 98-100), terdapat lima jenis aktivitas promosi, yaitu :
1) Periklanan (advertising), yaitu bentuk promosi nonpersonal dengan menggunakan berbagai media yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
2) Penjualan tatap muka (personal selling), yaitu bentuk promosi secara personal dengan presentasi lisan (oral presentation) dalam suatu percakapan dengan calon pembeli yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
3) Publisitas (publicity) yaitu suatu bentuk promosi non-personal mengenai pelayanan atau kesatuan usaha tertentu dengan jalan mengulas informasi/ berita tentangnya.
4) Promosi penjualan (sales promotion), yaitu suatu bentuk promosi di luar ketiga bentuk di atas yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
5) Promosi langsung (direct selling) yaitu suatu bentuk penjualan perorangan secara langsung ditujukan untuk mempengaruhi pembeli.
Berdasarkan pengamatan dan interaksi langsung antara penulis dengan berbagai pihak yang terlibat dalam aktivitas operasional maupun dengan konsumen menunjukkan bahwa aktivitas promosi telah dilakukan sejak Restoran Pusat Mang Kabayan Cibubur berdiri pada tahun 2006. Upaya promosi dengan mengombinasikan aktivitas yang tercakup dalam promotion mix juga telah dilakukan secara rutin setiap tahun.
Hasil dari pengamatan dan interaksi langsung penulis dengan berbagai pihak selama melakukan Pratek Kerja Lapangan di Restoran Pusat Mang Kabayan Cibubur kemudian penulis tuangkan dalam karya tulis yang diberi judul : TINJAUAN DESKRIPTIF AKTIVITAS PROMOSI PADA RESTORAN PUSAT MANG KABAYAN CIBUBUR.
I.2 Materi Kerja Praktik
Sebagai wujud untuk memenuhi syarat akademik guna melengkapi persyaratan mencapai gelar Ahli Madya pada Program Diploma III Bisnis dan Kewirausahaan, maka setiap mahasiswa harus melakukan tugas akhir dalam bentuk kerja praktik. Kerja praktik tersebut dilakukan di instansi atau perusahaan-perusahaan dimana terdapat aspek kegiatan yang berkaitan dengan program studi yang diambil oleh mahasiswa tersebut.
Sebagaimana kita ketahui, di dalam setiap instansi atau perusahaan terdapat berbagai macam aspek atau bentuk aktivitas mulai dari aspek produksi, pengembangan sumber daya manusia, keuangan, marketing, human relation dan sebagainya. Dalam kaitan dengan kerja praktik yang dilakukan oleh penulis, aspek yang penulis soroti dan telaah adalah berkaitan dengan promosi sesuai dengan program studi penulis , yaitu Manajemen Pemasaran.
Dalam melakukan kerja praktik yang dilakukan di Restoran Pusat Mang Kabayan Cibubur, aspek promosi inilah yang menjadi fokus yang penulis amati dan kaji. Data dan fakta yang penulis kumpulkan tentunya data dan fakta yang berkaitan dengan aspek promosi tersebut. Pencarian dan pengumpulan data dan fakta penulis lakukan dalam ragam aktivititas sebagai berikut :
1) Aktivitas transaksi (proses jual beli) yang berlangsung dalam ruangan Restoran Pusat Mang Kabayan Cibubur.
2) Berusaha mengetahui strategi promosi yang dilakukan, budget (anggaran ) promosi yang disediakan dalam jangka waktu setahun.
3) Aktivitas berbagai macam promosi yang dilakukan oleh manajemen dan pertimbangan di balik pemilihan salah satu bentuk promosi.
4) Menggali informasi dalam bentuk interaksi tanya jawab (wawancara) denan pemilik, manajemen pengelola, karyawan dan para konsumen.
I.3. Tujuan dan Manfaat Kerja Praktik
Kerja Praktik yang penulis lakukan pada Restoran Pusat Mang Kabayan Cibubur selama 2 (dua) minggu ini memiliki tujuan dan manfaat, antara lain :
I.3.1 Tujuan Kerja Praktik
Kerja Praktik ini memiliki tujuan, antara lain :
1. Mengetahui rencana, strategi dan penentuan anggaran (budget) aktivitas promosi yang dilakukan oleh Restoran Pusat Mang Kabayan Cibubur
2. Mengetahui jenis-jenis aktivitas promosi yang dilakukan oleh Restoran Pusat Mang Kabayan Cibubur.
I.3.2 Manfaat Kerja Praktik
Meskipun hanya dilakukan dalam jangka waktu dua minggu, namun kerja praktik yang dilakukan oleh penulis dengan terjun langsung ke perusahaan dengan mengkaji dan meneliti salah satu aspek kegiatan usaha yang berkaitan dengan program studi penulis, kerja praktik ini memiliki manfaat yang besar bagi berbagai pihak, antara lain :
1. Bagi Mahasiswa
a. Kerja praktik merupakan salah satu bentuk aktivitas untuk mengamati dan membuktikan penerapan atau implementasi berbagai teori yang penulis peroleh di bangku kuliah dengan “dunia nyata” dalam perusahaan.
b. Kerja praktik memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengetahui problem-problem riil di lapangan yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan dan mengamati bagaimana problem-problem riil tersebut dicarikan solusinya.
c. Kerja praktik memberikan bekal ilmu tambahan yang tidak penulis peroleh dalam bangku kuliah dan membantu mempersiapkan aspek psikologis saat mahasiswa memasuki dunia kerja atau memutuskan menjadi pengusaha (businessman).
d. Kerja praktik akan menambah jejaring sosial ( social network) bagi mahasiswa yang sangat bemanfaat untuk memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan studi.
2. Bagi Perusahaan
a. Sebagai bentuk pemenuhan tanggung jawab sosial perusahaan dengan member kesempatan kepada para mahasiswa untuk mengkaji dan meneliti berbagai aspek operasional perusahaan.
b. Sebagai sarana untuk menyebarkan nilai-nilai dan budaya unggul perusaahaan kepada masyarakat luas melalui karya-karya tulis yang disusun oleh para mahasiswa setelah melakukan praktik kerja di perusahaan tersebut.
c. Menerima dan menyerap berbagai informasi baru dari para mahasiswa mengenai berbagai aspek teoritis dan praktis.
d. Menyebarluaskan semangat dan jiwa kewirausahaan kepada kalangan mahasiswa dan perguruan tinggi.
3. Bagi Fakultas/ Perguruan Tinggi
a. Memperluas jejaring sosial (social network) antara Perguruan Tinggi dengan kalangan dunia usaha.
b. Melalui Laporan Kerja Pratik (LKP) yang disusun oleh mahasiswa dan kemudian didokumentasikan di Perguruan Tinggi, maka akan menjadi bank ilmu yang bisa digali oleh mahasiswa dan masyarakat luas.
c. Sebagai sarana memperoleh informasi untuk pengembangan keilmuan dan kurikulum pada Program Studi D-III Bisnis dan Kewirausahaan.
PENDAHULUAN restoran mang kabayan
I.1 Latar Belakang Masalah
Makan dan minum adalah kebutuhan dasar manusia di manapun mereka berada. Dalam masyarakat tradisional, makan dan minum lebih untuk memenuhi kebutuhan tubuh dari rasa lapar dan haus. Mereka mencari bahan-bahan makanan dan minuman yang telah disediakan oleh alam, baik berupa binatang buruan atau tanaman. Dengan teknik pengolahan dan bumbu-bumbu yang masih sangat sederhana, mereka menyajikan makanan dan minuman untuk anggota keluarga atau anggota komunitas mereka. Pengetahuan mengenai kandungan gizi dan vitamin yang terkandung dalam bahan makanan, teknik memasak yang bisa membuat rasa makanan dan minuman menjadi lezat dan cara penyajian yang menarik belum berkembang dengan baik.
Berbeda halnya dengan masyarakat moderen di mana urusan makan dan minum tidak hanya semata-mata untuk menghilangkan rasa lapar dan dahaga. Masyarakat moderen telah memberikan nilai lebih pada makanan dan minuman selain untuk memenuhi kebutuhan tubuh tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup (life style). Seiring dengan itu, berkembang pula ilmu membuat dan menyajikan makanan dan minuman (culinary) untuk memenuhi kebutuhan manusia moderen yang suka mencari hiburan di luar rumah bersama anggota keluarga dengan cara makan-makan di luar (dining out) , menjamu tamu atau relasi, baik dalam bentuk jamuan di rumah atau di tempat-tempat makan khusus yang kemudian dikenal sebagai rumah makan atau restoran.
Karena menjadi bagian tak terpisahkan dari kebutuhan dasar manusia, banyak orang meyakini bahwa bisnis makanan dan minuman tak akan pernah mati. Selagi manusia masih tinggal di muka bumi, mereka akan tetap membutuhkan makanan dan minuman. Dalam kondisi damai atau perang, dalam kondisi ekonomi suatu negara sedang baik atau tengah terkena krisis / resesi, semua orang tak akan melupakan makan dan minum. Karena itu, bisnis ini termasuk kebal krisis (recession proof).
Hal ini bisa ditunjukkan ketika Indonesia ditimpa krisis ekonomi yang sangat serius pada tahun 1997/1998, bisnis makanan dan minuman justru tumbuh pesat. Di Jakarta dan di berbagai kota besar muncul pusat-pusat jajanan yang dibuka oleh para pengusaha dadakan, yaitu para pekerja atau karyawan yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) karena tempat kerjanya tutup atau bangkrut karena terkena krisis ekonomi yang dipicu oleh krisis moneter.
Memasuki tahun 2000-an, bisnis makanan dan minuman di Indonesia semakin tumbuh pesat. Selain didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang cukup bagus dan stabil , bisnis ini juga didorong oleh perkembangan selera konsumen. Iklim usaha rumah makan atau restoran yang sangat bagus ini dipengaruhi oleh beberapa factor. Pertama, memasuki era 2000-an liputan media massa, baik cetak dan elektronik terhadap dunia kuliner sangat pesat. Saat ini hampir semua stasiun TV, media cetak dan media online porsi pemberitaan atau tayangan yang cukup banyak mengenai dunia kuliner. Bahkan di media cetak ada media yang mempunyai spesifikasi khusus memuat berbagai hal mengenai dunia kuliner.
Kedua, sebagaimana telah disinggung di atas, dunia kuliner telah berkembang sebagai bagian dari gaya hidup (life style) manusia moderen. Maka berkembang semboyan YOU ARE WHAT YOU EAT. Apa yang Anda makan, menunjukkan siapa jati diri Anda dan mencerminkan citra dan status Anda di msyarakat. Banyak keluarga kelas menengah ke atas yang menyisihkan anggaran khusus yang dialokasikan untuk aktivitas makan-makan di luar bersama keluarga. Jika di waktu lalu pembicaraan-pembicaraan bisnis lebih banyak dilakukan di kantor, saat ini sudah umum jika pembicaraan bisnis antara satu orang dengan relasi atau mitra bisnisnya dilakukan di restoran atau tempat makan. Banyak pusat perbelanjaan atau mal yang di waktu lalu menempatkan tempat makan (food court) di tempat yang kurang strategis, saat ini banyak mal menengah ke atas yang menempatkan tempat makan di posisi yang sangat strategis dan didisain secara eksklusif. Hal itu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan tempat makan yang nyaman dan menyajikan menu-menu yang enak dan variatif. Ketiga, sebagian masyarakat menilai bahwa bisnis kuliner telah berkembang menjadi bagian dari ekonomi kreatif yang mendapat dukungan berupa iklim usaha dan berbagai macam aturan yang kondusif untuk tumbuh dan berkembangnya bisnis ini. Sebagai bagian dari ekonomi kreatif, dunia kuliner telah berkembang sedemikian pesat dalam hal penciptaan aneka menu makanan dan minuman baru, teknik-teknik penyajian yang baru dan sebagainya.
Tak bisa dimungkiri bahwa usaha rumah makan, restoran atau kafe telah berkembang pesat di Indonesia dalam kurun 20 tahun belakangan ini. Di kota-kota besar selain banyak berdiri restoran yang dimiliki oleh pengusaha lokal dan nasional, belakangan juga banyak berdiri restoran yang menjadi cabang atau bagian dari jaringan restoran asing. Menurut data dari situs binaukm.com, jumlah restoran atau rumah makan di Indonesia pada tahun 2011 ini telah mencapai sekitar 250.000 unit. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 36.000 yang berbentuk badan hokum. Dari jumlah itu, hanya sekitar 10.000 yang masuk kategori usaha restoran yang mapan dan kuat. (binaukm.com).
Berdasarkan jenis menu atau makanan dan minuman yang dijual, di Indonesia terdapat tiga kategori besar rumah makan atau restoran. (Yasra Muhtarom, Prospek Bisnis Restoran Franchise, Makalah pada Seminar Menumbuhkan Entrepreuneurship di Kalangan Mahasiswa, Universitas Paramadina Jakarta, 15September 2006). Ketiga jenis usaha rumah makan atau restoran tersebut :
1) Restoran yang menjual menu utama makanan atau minuman tradisional asli Indonesia. Meskipun tidak ada data yang mampu menjelaskan berapa persen dari total bisnis rumah makan atau restoran yang menjual jenis menu utama ini, namun berdasarkan pengamatan empiris, persentase restoran ini cukup dominan. Menu yang mereka jual biasanya mengambil pilihan dari kelompok etnis tertentu yang memiliki tradisi kuliner yang kuat. Dari sini lahirlah restoran dengan spesifikasi menu seperti masakan Jawa, Sunda, Padang, Manado, Batak, Melayu, Makassar atau Aceh. Untuk satu jenis retoran dengan menu masakan Jawa saja, misalnya , terdapat berbagai varian lagi seperti Jawa Timuran, Jawa Tengahan atau Yogyakarta.
2) Restoran yang menjual menu Indonesia yang dipengaruhi tradisi kuliner asing.
Yang termasuk kategori restoran ini adalah mereka yang menjual menu masakan Cina (Chinese Food), masakan Arab atau Timur Tengah atau masakan India. Jenis restoran ini bisa tumbuh dan berkembang baik di Indonesia selain jumlah populasi masyarakat keturunan asing tersebut cukup besar, relasi dan interaksi masyarakat Indonesia sudah cukup lama dengan kelompok etnis tersebut sehingga banyak masakan seperti bakmi, bakso, nasi kebuli, dan kari telah lama diadopsi oleh menjadi bagian dari tradisi dan kekayaan kuliner Indonesia.
3) Restoran yang menjual menu asing
Restoran jenis ini di antaranya adalah restoran yang merupakan jaringan dari raksasa restoran asing. Mereka masuk ke Indonesia bekerja sama dengan pengusaha nasional dan biasanya dikembangkan dengan pola usaha waralaba (franchise). Beberapa nama restoran besar yang masuk kategori ini misalnya Mc Donald’s, Pizza Hut, Kentucky Fried Chicken (KFC) , Burger King, Hoka Hoka Bento dan sebagainya. Berdasarkan perjanjian khusus, beberapa jaringan restoran itu setelah masuk ke Indonesia juga berusaha menyesuaikan diri dengan karakter konsumen Indonesia. Di restoran Mc Donald’s, misalnya, tak hanya menjual burger yang menjadi menu andalan mereka di seluruh dunia, tetapi juga bisa ditemui menu seperti nasi dan ayam goreng yang hanya bisa ditemukan di Mc Donald’s di Indonesia. Begitu juga seperti restoran KFC yang menjual nasi yang juga hanya bisa ditemukan di KFC Indonesia.
Beberapa restoran yang menjual menu makanan asing belakangan ini juga banyak yang masuk ke Indonesia seperti restoran yang menjual menu masakan Korea, Jepang, Perancis, Amerika Serikat, Vietnam, Italia atau Thailand. Selain membidik atau mencari sasaran konsumen warga negara masing-masing yang tinggal dan bekerja di Indonesia, restoran-restoran seperti itu juga membidik segmen masyarakat asing yang melakukan perjalanan bisnis atau wisata ke Indonesia, atau orang Indonesia yang memang sudah akrab dengan jenis-jenis menu makanan dari negara-negara tersebut.
Dilihat dari potensi pasarnya, bisnis rumah makan atau restoran di Indonesia memang sangat besar. Dan sebagian besar dari mereka adalah konsumen yang tinggal perkotaan yang berkisar 40% dari total jumlah penduduk Indonesia. Namun demikian, peningkatan jumlah pengusaha yang memasuki bisnis ini membuat persaingan semakin ketat. Meningkatnya intensitas persaingan bisa mengarah pada suasana bisnis yang tidak sehat dan terancamnya eksistensi usaha-usaha restoran yang sudah ada. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh DR Lili Adiwibowo, Dosen Universitas Pendidikan Bandung menunjukkan bahwa intensitas persaingan yang meningkat yang ditandai oleh peningkatan suplai (meningkat pesatnya kehadiran restoran-restoran baru ) di suatu kota berkorelasi dengan menurunnya tingkat loyalitas konsumen kepada suatu restoran. (DR Lili Adiwibowo, Mengukur Tingkat Loyalitas Konsumen Restoran, Studi Kasus Usaha Restoran di Kota Bandung, 2006).
Menurut Lili,jumlah usaha restoran yang sangat banyak membuat konsumen yang memiliki “loyalitas total” terhadap suatu restoran semakin tipis. Sebagian besar konsumen memiliki perilaku selalu ingin mencoba menu-menu atau suasana restoran yang baru yang sering diistilahkan sebagai “mengeksplorasi rasa”. Kalaupun terdapat konsumen yang loyal, mereka termasuk dalam kategori advocates, yaitu mereka loyal terhadap suatu restoran dan memberikan rekomendasi kepada teman, kerabat serta orang lain atas produk yang ditawarkan suatu restoran. Akan tetapi hal itu belum menjamin mereka tetap loyal dan kebal terhadap penawaran pesaing. Karena apabila ada penawaran yang lebih menarik dari restoran lain dan memberikan nilai yang lebih baik dibandingkan dengan cost (biaya) yang dikeluarkan , mereka cenderung switch atau berpindah.
Di sisi lain, berdasarkan informasi dari para pelaku bisnis restoran, dalam operasionalisasinya pada kurun satu tahun usaha restoran juga memiliki siklus-siklus waktu di mana terdapat bulan-bulan yang termasuk kategori ramai (peak season) dan ada pula bulan-bulan yang termasuk dalam kategori sepi (low season). Pada bulan-bulan seperti saat liburan panjang sekolah adalah termasuk bulan-bulan yang ramai dan puncak aktivitas bisnis usaha restoran akan tercapai pada bulan-bulan Puasa Ramadhan dan beberapa minggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Pada bulan Ramadhan biasanya banyak aktivitas makan di luar rumah oleh rumah tangga atau kantor- kantor yang dikemas dalam acara buka puasa bersama dan setelah itu diikuti dengan merayakan Idul Fitri. Adapun bulan-bulan yang tergolong sepi adalah sekitar satu bulan setelah aktivitas Tahun Ajaran Baru dimana orang tua banyak mengeluarkan uang untuk biaya masuk sekolah dan pembelian peralatan sekolah. Aktivitas usaha restoran juga biasanya sepi dua bulan menjelang datangnya bulan Puasa Ramadhan karena sebagian besar orang sedang sibuk mempersiapkan berbagai kebutuhan menyambut bulan Puasa dan Idul Fitri. Bisnis restoran juga biasanya sepi setelah dua minggu dari Lebaran karena kondisi keuangan telah “terkuras” untuk merayakan Lebaran.
Karakteristik usaha restoran yang seperti itu membuat para pelaku usaha ini harus mengantisipasinya sejak awal ketika memutuskan masuk ke bisnis restoran. Salah satu antisipasi tersebut adalah dengan merancang strategi marketing (pemasaran) yang baik dan tepat dan melaksanakan strategi tersebut dengan konsisten. Tanpa langkah itu, maka sebuah restoran tidak akan mampu menjaga arus pengunjung dan akibatnya berdampak pada grafik penjualan yang naik turun secara tajam. Pemilihan strategi marketing yang baik dan menjalankan strategi tersebut dengan tepat dan konsisten adalah upaya untuk tetap menjaga dan meningkatkan kinerja penjualan dari waktu ke waktu.
Dalam merancang strategi pemasaran tentu harus memikirkan empat factor dasar yang menjadi pertimbangan agar efektif dan efisien, yaitu 4P (Product, Price, Promotion dan Place). Pada penulisan Laporan Kerja Praktek (LKP) ini, penulis akan memfokuskan diri pada aspek Promosi
Promosi (Promotion) menurut Tjiptono “…………adalah suatu jenis komunikasi pemasaran, artinya aktivitas pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/membujuk dan atau mengingatkan pasar sasaran atas perusahaan dan produknya agar bersedia menerima, membeli dan loyal pada produk yang ditawarkan perusahaan-perusahaan yang bersangkutan”. (Tjiptono , 2001 : 219)
Adapun tujuan perusahaan melakukan promosi, menurut Tjiptono adalah menginformasikan (informing), mempengaruhi dan membujuk (persuading), serta mengingatkan (reminding) pelanggan tentang perusahaan dan bauran pemasarannya. Adapun menurut Philip Kotler (Kotler , 2001 : 98-100), terdapat lima jenis aktivitas promosi, yaitu :
1) Periklanan (advertising), yaitu bentuk promosi nonpersonal dengan menggunakan berbagai media yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
2) Penjualan tatap muka (personal selling), yaitu bentuk promosi secara personal dengan presentasi lisan (oral presentation) dalam suatu percakapan dengan calon pembeli yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
3) Publisitas (publicity) yaitu suatu bentuk promosi non-personal mengenai pelayanan atau kesatuan usaha tertentu dengan jalan mengulas informasi/ berita tentangnya.
4) Promosi penjualan (sales promotion), yaitu suatu bentuk promosi di luar ketiga bentuk di atas yang ditujukan untuk merangsang pembelian.
5) Promosi langsung (direct selling) yaitu suatu bentuk penjualan perorangan secara langsung ditujukan untuk mempengaruhi pembeli.
Berdasarkan pengamatan dan interaksi langsung antara penulis dengan berbagai pihak yang terlibat dalam aktivitas operasional maupun dengan konsumen menunjukkan bahwa aktivitas promosi telah dilakukan sejak Restoran Pusat Mang Kabayan Cibubur berdiri pada tahun 2006. Upaya promosi dengan mengombinasikan aktivitas yang tercakup dalam promotion mix juga telah dilakukan secara rutin setiap tahun.
Hasil dari pengamatan dan interaksi langsung penulis dengan berbagai pihak selama melakukan Pratek Kerja Lapangan di Restoran Pusat Mang Kabayan Cibubur kemudian penulis tuangkan dalam karya tulis yang diberi judul : TINJAUAN DESKRIPTIF AKTIVITAS PROMOSI PADA RESTORAN PUSAT MANG KABAYAN CIBUBUR.
I.2 Materi Kerja Praktik
Sebagai wujud untuk memenuhi syarat akademik guna melengkapi persyaratan mencapai gelar Ahli Madya pada Program Diploma III Bisnis dan Kewirausahaan, maka setiap mahasiswa harus melakukan tugas akhir dalam bentuk kerja praktik. Kerja praktik tersebut dilakukan di instansi atau perusahaan-perusahaan dimana terdapat aspek kegiatan yang berkaitan dengan program studi yang diambil oleh mahasiswa tersebut.
Sebagaimana kita ketahui, di dalam setiap instansi atau perusahaan terdapat berbagai macam aspek atau bentuk aktivitas mulai dari aspek produksi, pengembangan sumber daya manusia, keuangan, marketing, human relation dan sebagainya. Dalam kaitan dengan kerja praktik yang dilakukan oleh penulis, aspek yang penulis soroti dan telaah adalah berkaitan dengan promosi sesuai dengan program studi penulis , yaitu Manajemen Pemasaran.
Dalam melakukan kerja praktik yang dilakukan di Restoran Pusat Mang Kabayan Cibubur, aspek promosi inilah yang menjadi fokus yang penulis amati dan kaji. Data dan fakta yang penulis kumpulkan tentunya data dan fakta yang berkaitan dengan aspek promosi tersebut. Pencarian dan pengumpulan data dan fakta penulis lakukan dalam ragam aktivititas sebagai berikut :
1) Aktivitas transaksi (proses jual beli) yang berlangsung dalam ruangan Restoran Pusat Mang Kabayan Cibubur.
2) Berusaha mengetahui strategi promosi yang dilakukan, budget (anggaran ) promosi yang disediakan dalam jangka waktu setahun.
3) Aktivitas berbagai macam promosi yang dilakukan oleh manajemen dan pertimbangan di balik pemilihan salah satu bentuk promosi.
4) Menggali informasi dalam bentuk interaksi tanya jawab (wawancara) denan pemilik, manajemen pengelola, karyawan dan para konsumen.
I.3. Tujuan dan Manfaat Kerja Praktik
Kerja Praktik yang penulis lakukan pada Restoran Pusat Mang Kabayan Cibubur selama 2 (dua) minggu ini memiliki tujuan dan manfaat, antara lain :
I.3.1 Tujuan Kerja Praktik
Kerja Praktik ini memiliki tujuan, antara lain :
1. Mengetahui rencana, strategi dan penentuan anggaran (budget) aktivitas promosi yang dilakukan oleh Restoran Pusat Mang Kabayan Cibubur
2. Mengetahui jenis-jenis aktivitas promosi yang dilakukan oleh Restoran Pusat Mang Kabayan Cibubur.
I.3.2 Manfaat Kerja Praktik
Meskipun hanya dilakukan dalam jangka waktu dua minggu, namun kerja praktik yang dilakukan oleh penulis dengan terjun langsung ke perusahaan dengan mengkaji dan meneliti salah satu aspek kegiatan usaha yang berkaitan dengan program studi penulis, kerja praktik ini memiliki manfaat yang besar bagi berbagai pihak, antara lain :
1. Bagi Mahasiswa
a. Kerja praktik merupakan salah satu bentuk aktivitas untuk mengamati dan membuktikan penerapan atau implementasi berbagai teori yang penulis peroleh di bangku kuliah dengan “dunia nyata” dalam perusahaan.
b. Kerja praktik memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mengetahui problem-problem riil di lapangan yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan dan mengamati bagaimana problem-problem riil tersebut dicarikan solusinya.
c. Kerja praktik memberikan bekal ilmu tambahan yang tidak penulis peroleh dalam bangku kuliah dan membantu mempersiapkan aspek psikologis saat mahasiswa memasuki dunia kerja atau memutuskan menjadi pengusaha (businessman).
d. Kerja praktik akan menambah jejaring sosial ( social network) bagi mahasiswa yang sangat bemanfaat untuk memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan studi.
2. Bagi Perusahaan
a. Sebagai bentuk pemenuhan tanggung jawab sosial perusahaan dengan member kesempatan kepada para mahasiswa untuk mengkaji dan meneliti berbagai aspek operasional perusahaan.
b. Sebagai sarana untuk menyebarkan nilai-nilai dan budaya unggul perusaahaan kepada masyarakat luas melalui karya-karya tulis yang disusun oleh para mahasiswa setelah melakukan praktik kerja di perusahaan tersebut.
c. Menerima dan menyerap berbagai informasi baru dari para mahasiswa mengenai berbagai aspek teoritis dan praktis.
d. Menyebarluaskan semangat dan jiwa kewirausahaan kepada kalangan mahasiswa dan perguruan tinggi.
3. Bagi Fakultas/ Perguruan Tinggi
a. Memperluas jejaring sosial (social network) antara Perguruan Tinggi dengan kalangan dunia usaha.
b. Melalui Laporan Kerja Pratik (LKP) yang disusun oleh mahasiswa dan kemudian didokumentasikan di Perguruan Tinggi, maka akan menjadi bank ilmu yang bisa digali oleh mahasiswa dan masyarakat luas.
c. Sebagai sarana memperoleh informasi untuk pengembangan keilmuan dan kurikulum pada Program Studi D-III Bisnis dan Kewirausahaan.
Kamis, 20 Oktober 2011
prosedur mendirikan badan hukum
PROSEDUR PENDIRIAN PT (PERSEROAN TERBATAS)
Bentuk badan usaha PT adalah badan hukum perusahaan yang paling banyak digunakan dan diminati oleh para pengusaha. Hal ini dikarenakan badan hukum PT memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan badan hukum lainnya. Kelebihannya antara lain adalah luasnya bidang usaha yang dimiliki, kewenangan, dan tanggung jawab yang dimiliki terbatas kepada modal yang disetor.
Selain memiliki landasan hukum yang jelas seperti yang diatur dalam Undang-undang tentang PERSEROAN TERBATAS bentuk PT ini juga dirasakan lebih menjaga keamanan para pemegang saham/pemilik modal dalam berusaha.
Dasar hukum yang utama tentang pendirian PT-Perseroan Terbatas : Undang-undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1998 tentang Pemakaian Nama PT - Perseroan Terbatas.
Perbedaan antara PT dan CV adalah PT merupakan satu badan hukum yang dipersamakan kedudukannya dengan orang dan mempunyai kekayaan yang terpisah dengan kekayaan para pendirinya. Sehingga, PT dapat bertindak di dalam maupun di muka pengadilan sebagaimana halnya dengan orang, serta dapat memiliki harta kekayaan sendiri. Sedangkan CV, merupakan Badan Usaha yang tidak berbadan hukum dan kekayaan para pendirinya tidak terpisahkan dari kekayaan CV.
Pendirian PT minimal dilakukan oleh 2 (dua) orang atau lebih dan harus dibuat dengan Akta Otentik sebagai Akta Pendirian yang dibuat dihadapan Notaris yang berwenang.
Karakteristik Perseroan Terbatas antara lain :
1. Pendiriannya dapat dilakukan oleh Warga Negara Indonesia atau Warga Negara Asing dalam rangka PMA
2. Proses pendirian, Perubahan atau Pembubaran Perusahaan diatur dengan Undang-undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas
3. Setiap pendirian dan perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas wajib mendapatkan Pengesahan Menteri Hukum & HAM RI
4. Status PT Bersifat Terbuka atau Tertutup
5. Bersifat mencari keuntungan sebesar-besarnya
6. Status modalnya dapat berupa PMA, PMDN, BUMN atau Swasta Lokal
7. Modal Dasarnya diatur minimal Rp. 20 juta kecuali ditentukan lain sesuai kegiatan usahanya
8. Adanya Pemegang Saham sebagai pemilik modal yang secara jelas disebutkan dalam Akta Pendirian atau Perubannya baik atas nama perusahaan asing/lokal ataupun atas nama perorangan
9. Tanggung jawab dan pengawasan perusahaan dilakukan oleh Direktur dan Komisaris
10. Keputusan tertinggi berada didalam Keputusan RUPS-Rapat Umum Pemegang Saham
Apabila para pelaku bisnis dalam menjalankan usaha berencana untuk ikut serta dalam tender yang dilakukan oleh instansi pemerintahan maupun swasta, maka harus dilengkapi dengan surat-surat lainnya, yaitu berupa :
1. Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.
2. Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP).
3. Tanda Daftar Perseroan
4. Keanggotaan pada KADIN dan Sertifikasi Kompetensi KADIN,
5. Keanggotaan pada Asosiasi dan Sertifikat Badan Usaha, serta Surat Izin Usaha Jasa Konstruksi. (penjelasan lengkap pada halaman Sertifikasi Izin Tender)
Untuk mendapatkan statusnya sebagai Badan Hukum maka PT harus mendapatkan pengesahan Menteri Hukum & HAM RI, sesuai dengan Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT)
Kualifikasi perusahaan berdasarkan SIUP
1. Perusahaan Besar adalah perusahaan yang memiliki Modal atau Kekayaan Bersih diluar investasi tanah dan bangunan atau Modal disetor dalam Akta Pendirian/Perubahanya diatas Rp. 500.000.000 (limaratus juta rupiah)
2. Perusahaan Menengah adalah perusahaan yang memiliki Modal atau Kekayaan Bersih diluar investasi tanah dan bangunan atau Modal disetor dalam Akta Pendirian/Perubahaanya Rp. 200.000.000 (duaratus juta rupiah) sampai Rp. 500.000.000 (limaratus juta rupiah)
3. Perusahaan Kecil adalah perusahaan yang memiliki Modal atau Kekayaan Bersih diluar investasi tanah dan bangunan atau Modal disetor dalam Akta Pendirian/Perubahannya sampai dengan Rp. 200.000.000 (duaratus juta)
Tahapan proses pendirian PT :
TAHAP 1. Pengecekan & Pendaftaran Nama Perseroan
TAHAP 2. Pembuatan Akta Pendirian PT
TAHAP 3. Surat Keterangan Domisili Perusahaan
TAHAP 4. NPWP-Nomor Pokok Wajib Pajak
TAHAP 5. Pengesahan Menteri Kehakiman & Ham RI
TAHAP 6. UUG/SITU-Surat Izin Tempat Usaha
TAHAP 7. SIUP-Surat Izin Usaha Perdagangan
TAHAP 8. TDP-Tanda Daftar Perusahaan
SYARAT PENDIRIAN PT
Mengisi formulir Pendirian PT
Mempersiapkan 2 (dua) nama PT sebagai alternatif
Melampirkan foto copy KTP para pendiri perseroan
Melampirkan foto copy KTP para pengurus (Direksi & Komisaris)
Melampirkan foto copy KK pimpinan perusahaan
Melampirkan foto copy Surat Kontrak/Sewa atau PBB tahun terakhir bukti kepemilikan tempat sesuai domisili perusahaan
Melampirkan foto copy Surat Keterangan dari pemilik gedung/kantor jika berdomisili di Gedung Perkantoran
Melampirkan foto copy SITU-Surat Izin Tempat Usaha berdasarkan Undang-Undang Gangguan untuk kegiatan usaha yang dipersyaratkan adanya SITU
BIAYA PAKET PROSES PENDIRIAN PT
NO GOLONGAN BIAYA PROSES PER PAKET
MULAI TAHAP 1 S.D TAHAP 8 MASA PROSES
(DALAM HARI KERJA)
1 SIUP BESAR Rp. 10.200.000,-/PAKET 51 HARI
2 SIUP MENENGAH Rp. 9.500.000,-/PAKET 51 HARI
3 SIUP KECIL Rp. 7.500.000,-/PAKET 51 HARI
Syarat pembayaran :
o 50% uang muka pada saat dokumen lengkap dan siap diproses
o 50% sisa pembayaran pada saat akan melakukan proses Tahap 4
Bentuk badan usaha PT adalah badan hukum perusahaan yang paling banyak digunakan dan diminati oleh para pengusaha. Hal ini dikarenakan badan hukum PT memiliki banyak kelebihan jika dibandingkan dengan badan hukum lainnya. Kelebihannya antara lain adalah luasnya bidang usaha yang dimiliki, kewenangan, dan tanggung jawab yang dimiliki terbatas kepada modal yang disetor.
Selain memiliki landasan hukum yang jelas seperti yang diatur dalam Undang-undang tentang PERSEROAN TERBATAS bentuk PT ini juga dirasakan lebih menjaga keamanan para pemegang saham/pemilik modal dalam berusaha.
Dasar hukum yang utama tentang pendirian PT-Perseroan Terbatas : Undang-undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas Peraturan Pemerintah No. 26 tahun 1998 tentang Pemakaian Nama PT - Perseroan Terbatas.
Perbedaan antara PT dan CV adalah PT merupakan satu badan hukum yang dipersamakan kedudukannya dengan orang dan mempunyai kekayaan yang terpisah dengan kekayaan para pendirinya. Sehingga, PT dapat bertindak di dalam maupun di muka pengadilan sebagaimana halnya dengan orang, serta dapat memiliki harta kekayaan sendiri. Sedangkan CV, merupakan Badan Usaha yang tidak berbadan hukum dan kekayaan para pendirinya tidak terpisahkan dari kekayaan CV.
Pendirian PT minimal dilakukan oleh 2 (dua) orang atau lebih dan harus dibuat dengan Akta Otentik sebagai Akta Pendirian yang dibuat dihadapan Notaris yang berwenang.
Karakteristik Perseroan Terbatas antara lain :
1. Pendiriannya dapat dilakukan oleh Warga Negara Indonesia atau Warga Negara Asing dalam rangka PMA
2. Proses pendirian, Perubahan atau Pembubaran Perusahaan diatur dengan Undang-undang No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas
3. Setiap pendirian dan perubahan Anggaran Dasar Perseroan Terbatas wajib mendapatkan Pengesahan Menteri Hukum & HAM RI
4. Status PT Bersifat Terbuka atau Tertutup
5. Bersifat mencari keuntungan sebesar-besarnya
6. Status modalnya dapat berupa PMA, PMDN, BUMN atau Swasta Lokal
7. Modal Dasarnya diatur minimal Rp. 20 juta kecuali ditentukan lain sesuai kegiatan usahanya
8. Adanya Pemegang Saham sebagai pemilik modal yang secara jelas disebutkan dalam Akta Pendirian atau Perubannya baik atas nama perusahaan asing/lokal ataupun atas nama perorangan
9. Tanggung jawab dan pengawasan perusahaan dilakukan oleh Direktur dan Komisaris
10. Keputusan tertinggi berada didalam Keputusan RUPS-Rapat Umum Pemegang Saham
Apabila para pelaku bisnis dalam menjalankan usaha berencana untuk ikut serta dalam tender yang dilakukan oleh instansi pemerintahan maupun swasta, maka harus dilengkapi dengan surat-surat lainnya, yaitu berupa :
1. Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.
2. Surat Ijin Usaha Perdagangan (SIUP).
3. Tanda Daftar Perseroan
4. Keanggotaan pada KADIN dan Sertifikasi Kompetensi KADIN,
5. Keanggotaan pada Asosiasi dan Sertifikat Badan Usaha, serta Surat Izin Usaha Jasa Konstruksi. (penjelasan lengkap pada halaman Sertifikasi Izin Tender)
Untuk mendapatkan statusnya sebagai Badan Hukum maka PT harus mendapatkan pengesahan Menteri Hukum & HAM RI, sesuai dengan Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (PT)
Kualifikasi perusahaan berdasarkan SIUP
1. Perusahaan Besar adalah perusahaan yang memiliki Modal atau Kekayaan Bersih diluar investasi tanah dan bangunan atau Modal disetor dalam Akta Pendirian/Perubahanya diatas Rp. 500.000.000 (limaratus juta rupiah)
2. Perusahaan Menengah adalah perusahaan yang memiliki Modal atau Kekayaan Bersih diluar investasi tanah dan bangunan atau Modal disetor dalam Akta Pendirian/Perubahaanya Rp. 200.000.000 (duaratus juta rupiah) sampai Rp. 500.000.000 (limaratus juta rupiah)
3. Perusahaan Kecil adalah perusahaan yang memiliki Modal atau Kekayaan Bersih diluar investasi tanah dan bangunan atau Modal disetor dalam Akta Pendirian/Perubahannya sampai dengan Rp. 200.000.000 (duaratus juta)
Tahapan proses pendirian PT :
TAHAP 1. Pengecekan & Pendaftaran Nama Perseroan
TAHAP 2. Pembuatan Akta Pendirian PT
TAHAP 3. Surat Keterangan Domisili Perusahaan
TAHAP 4. NPWP-Nomor Pokok Wajib Pajak
TAHAP 5. Pengesahan Menteri Kehakiman & Ham RI
TAHAP 6. UUG/SITU-Surat Izin Tempat Usaha
TAHAP 7. SIUP-Surat Izin Usaha Perdagangan
TAHAP 8. TDP-Tanda Daftar Perusahaan
SYARAT PENDIRIAN PT
Mengisi formulir Pendirian PT
Mempersiapkan 2 (dua) nama PT sebagai alternatif
Melampirkan foto copy KTP para pendiri perseroan
Melampirkan foto copy KTP para pengurus (Direksi & Komisaris)
Melampirkan foto copy KK pimpinan perusahaan
Melampirkan foto copy Surat Kontrak/Sewa atau PBB tahun terakhir bukti kepemilikan tempat sesuai domisili perusahaan
Melampirkan foto copy Surat Keterangan dari pemilik gedung/kantor jika berdomisili di Gedung Perkantoran
Melampirkan foto copy SITU-Surat Izin Tempat Usaha berdasarkan Undang-Undang Gangguan untuk kegiatan usaha yang dipersyaratkan adanya SITU
BIAYA PAKET PROSES PENDIRIAN PT
NO GOLONGAN BIAYA PROSES PER PAKET
MULAI TAHAP 1 S.D TAHAP 8 MASA PROSES
(DALAM HARI KERJA)
1 SIUP BESAR Rp. 10.200.000,-/PAKET 51 HARI
2 SIUP MENENGAH Rp. 9.500.000,-/PAKET 51 HARI
3 SIUP KECIL Rp. 7.500.000,-/PAKET 51 HARI
Syarat pembayaran :
o 50% uang muka pada saat dokumen lengkap dan siap diproses
o 50% sisa pembayaran pada saat akan melakukan proses Tahap 4
Minggu, 02 Oktober 2011
METODOLOGI RISET BISNIS
METODOLOGI RISET BISNIS
Analisis LKP oleh: Nama: Pandu Wiranegara, NPM30208949
1. Judul: "TINJAUAN KEGIATAN PROMISI PADA DEALER TERUS JAYA MOTOR SUKABUMI”
Pengarang: LINDA WINDASARI
Tahun: 2010
2. Tema: Pelayanan Pelanggan.
3. Latar Belakang Masalah: pada masa lalu,sebelum mengalami perkembangan seperti sekarang ini, kendaraan bermotor bisa di katakan sebagai salah satu barang mewah dan hanya sebagian kecil yang memiliki kendaraan bermotor tersebut. Semua itu mencerminkan bahwa kebutuhan konsumen terhadap kendaraan bermotor meningkat sangat pesat. Semua dapat di lihat dari dampak tingginya penggunaan kendaraan bermotor . Ada punhal tersebut di atas di karenakan para konsumen merasa bahwa dengan kendaraan bermotor banyak sekali keuntungan misalnya dari segi waktu untuk menempuh jarak akan lebih cepat ( efktif ) sehingga dapat mempermudah dan memperlancar segala aktivitas yang dilakukan. Begitupun dari segi biaya yang di keluarkan akan lebih murah (efisien)
4.Masalah: Dampak yang di timbulkan dengan munculnya berbagai jenis kendaraan baru yang beredar di pasaran membentuk kondisi pasar yang sangat kompetitif di bidang industri kendaraan yang mendorong terciptanya berbagai bentuk dan desain kendaraan bermotor yang dapat di terima oleh konsumen. Kondisi ini menuntun pelaku pasar untuk melakukan strategi-strategi pemasaran yang efektif dan efisien yang mencakup 4P yakni Product, Price, Place, dan Promotion. Keempat komponen pemasaran tersebut harus dapat di lakukan secara singkron.
5. Tujuan Riset: Mengetahui jenis-jenis kegiatan promosi yang dilakukan oleh Dealer Terus Jaya Motor, sebagai wujud kepedulian perusahaan terhadap masa depan generasi muda,serta menunjukkan keterbukkan perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan nilai atau citra perusahaan di kalangan akedemis maupun publik.
6. Ruang lingkup materi : Dealer adalah penyedia jasa dan produk yang biasanya hanya menawarkan salah satu macam merk tertentu saja. Dealer Terus Jaya Motor adalah supplier resmi motor Honda. Penjualan sepeda motor dan penyediaan suku cadang asli motor honda serta bengkel untuk motor honda
7. Aktivitas dan kegiatan : sebagai Dealer resmi motor Honda aktivitas dan kegiatannya adalah berupa penjualan sepeda motor,penyediaan suku cadang asli motor honda serta bengkel resmi untuk motor honda. Serta melakukan promosi kepada masyarakat pembagian brosur produk Dealer Terus Jaya Motor.
8. Pembahasaan dan Analisis : Memahami kegiataan peromosi Dealer terus jaya motor. Pemasaran yang di lakukan perusahaan tersebut sesuai dengan teori di atas, dimana perusahaan dalam memuaskan keinginan dan kebutuhan dari setiap konsumen dan pelanggannya dengan melalui aktifitas penjualan. Terbukti dengan banyaknya konsumen dan calon pelanggan banyak yang datang untuk membel motor, menservice motor dan mengganti spareoart motor karena keinginan dan kebutuhan dari para konsumen dan pelanggan tersedia
9. Hasil : Kegiataan promosi yang di lakukan perusahaan yaitu menggunakan bauran promosi (promotional mix) yang terdiri dari publisitas(publicity)periklanan(advertising),penjualan pribadi (personal selling ) , dan promosi penjualan (sales promotion )
Analisis LKP oleh: Nama: Pandu Wiranegara, NPM30208949
1. Judul: "TINJAUAN KEGIATAN PROMISI PADA DEALER TERUS JAYA MOTOR SUKABUMI”
Pengarang: LINDA WINDASARI
Tahun: 2010
2. Tema: Pelayanan Pelanggan.
3. Latar Belakang Masalah: pada masa lalu,sebelum mengalami perkembangan seperti sekarang ini, kendaraan bermotor bisa di katakan sebagai salah satu barang mewah dan hanya sebagian kecil yang memiliki kendaraan bermotor tersebut. Semua itu mencerminkan bahwa kebutuhan konsumen terhadap kendaraan bermotor meningkat sangat pesat. Semua dapat di lihat dari dampak tingginya penggunaan kendaraan bermotor . Ada punhal tersebut di atas di karenakan para konsumen merasa bahwa dengan kendaraan bermotor banyak sekali keuntungan misalnya dari segi waktu untuk menempuh jarak akan lebih cepat ( efktif ) sehingga dapat mempermudah dan memperlancar segala aktivitas yang dilakukan. Begitupun dari segi biaya yang di keluarkan akan lebih murah (efisien)
4.Masalah: Dampak yang di timbulkan dengan munculnya berbagai jenis kendaraan baru yang beredar di pasaran membentuk kondisi pasar yang sangat kompetitif di bidang industri kendaraan yang mendorong terciptanya berbagai bentuk dan desain kendaraan bermotor yang dapat di terima oleh konsumen. Kondisi ini menuntun pelaku pasar untuk melakukan strategi-strategi pemasaran yang efektif dan efisien yang mencakup 4P yakni Product, Price, Place, dan Promotion. Keempat komponen pemasaran tersebut harus dapat di lakukan secara singkron.
5. Tujuan Riset: Mengetahui jenis-jenis kegiatan promosi yang dilakukan oleh Dealer Terus Jaya Motor, sebagai wujud kepedulian perusahaan terhadap masa depan generasi muda,serta menunjukkan keterbukkan perusahaan yang pada akhirnya dapat meningkatkan nilai atau citra perusahaan di kalangan akedemis maupun publik.
6. Ruang lingkup materi : Dealer adalah penyedia jasa dan produk yang biasanya hanya menawarkan salah satu macam merk tertentu saja. Dealer Terus Jaya Motor adalah supplier resmi motor Honda. Penjualan sepeda motor dan penyediaan suku cadang asli motor honda serta bengkel untuk motor honda
7. Aktivitas dan kegiatan : sebagai Dealer resmi motor Honda aktivitas dan kegiatannya adalah berupa penjualan sepeda motor,penyediaan suku cadang asli motor honda serta bengkel resmi untuk motor honda. Serta melakukan promosi kepada masyarakat pembagian brosur produk Dealer Terus Jaya Motor.
8. Pembahasaan dan Analisis : Memahami kegiataan peromosi Dealer terus jaya motor. Pemasaran yang di lakukan perusahaan tersebut sesuai dengan teori di atas, dimana perusahaan dalam memuaskan keinginan dan kebutuhan dari setiap konsumen dan pelanggannya dengan melalui aktifitas penjualan. Terbukti dengan banyaknya konsumen dan calon pelanggan banyak yang datang untuk membel motor, menservice motor dan mengganti spareoart motor karena keinginan dan kebutuhan dari para konsumen dan pelanggan tersedia
9. Hasil : Kegiataan promosi yang di lakukan perusahaan yaitu menggunakan bauran promosi (promotional mix) yang terdiri dari publisitas(publicity)periklanan(advertising),penjualan pribadi (personal selling ) , dan promosi penjualan (sales promotion )
Kamis, 29 September 2011
PENGERTIAN BERBISNIS
Nama: Pandu wiranegara
Kelas : 3DD01
NPM : 30208949
Pengertian bisnis
SistemInformasiBisnis
• Bisnis→berasal dari business →busy →sibuk
• “Sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaa nyang mendatang kankeuntungan”
• “suatu organisas iyang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya”(ilmuekonomi)
• Konteks: individu, komunitas atau pun masyarakat
Pengertian dan Fungsi Bisnis:
• Bisnis dalam arti luas adalah istilah umum yang menggambarkan semua aktifitas dan institusi yang memproduksi barang & jasa dalam kehidupan sehari-hari
• Bisnis sebagai suatu sistem yang memproduksi barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan masyarakat(bussinessis then simply a system that produces goods and service to satisfy the needs of our society) [Huat, T Chwee,1990]
• Bisnis merupakan suatu organisasi yang menyediakan barang atau jasa yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan[Griffin & Ebert]
Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa : Bisnis adalah kegiatan yang dilakukan oleh individu dan sekelompok orang (organisasi) yang menciptakan nilai(create value)melalu ipenciptaan barang dan jasa(create of good and service) untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan memperoleh keuntungan melalui transaksi.
Aspek-aspekbisnis:
• Kegiatan individu dan kelompok
• Penciptaan nilai
• Penciptaan barang dan jasa
• Keuntungan melalui transaksi.
Undang-undang dalam berbisnis :
• Undang-undang No.9 Tahun 1995 tentang usaha kecil, Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan:
1. Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dan
memenuhi kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan serta
kepemilikan sebagaimana diatur dalam Undang-undang ini
2. . Usaha Menengah dan Usaha Besar adalah kegiatan ekonomi yang
mempunyai kriteria kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan
lebih besar daripada kekayaan bersih dan hasil penjualan tahunan
Usaha Kecil
3. Pemberdayaan adalah upaya yang dilakukan oleh Pemerintah, dunia
usaha, dan masyarakat dalam bentuk penumbuhan iklim usaha,
pembinaan dan pengembangan sehingga Usaha Kecil mampu
menumbuhkan dan memperkuat dirinya menjadi usaha yang tangguh
dan mandiri
• Undang-undang N0 20 TAHUN 2008 Tentang USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH: Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria Usaha Mikro sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
2. Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.
3. Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau usaha besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini.
• Undang-undang N0 25 TAHUN 1992 Tentang P e r k o p er a s i a n: Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan.
2. Perkoperasian adalah segala sesuatu yang menyangkut kehidupan Koperasi.
3. Koperasi Primer adalah Koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan orang-seorang.
4. Koperasi Sekunder adalah Koperasi yang didirikan oleh dan beranggotakan Koperasi.
5. Gerakan Koperasi adalah keseluruhan organisasi Koperasi dan kegiatan perkoperasian yangbersifat terpadu menuju tercapainya cita-cita bersama Koperasi.
• Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat : Menjaga kepentingan umum dan meningkatkan efisiensi ekonomi serta melindungi konsumen.Menumbuhkan iklim usaha yang kondusif melalui terciptanya persaingan usaha yang sehat, dan menjamin kepastian kesempatan berusaha yang sama bagi setiap orang, Menjaga praktek-praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang ditimbulkan pelaku usaha.Menciptakan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha dalam rangka meningkatkan efisiensi ekonomi nasional sebagai salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat.
• UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN :
Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan:
1. Perlindungan konsumen adalah segala upaya yang menjamin adanya kepastian hukum untuk memberi kepada konsumen.
2. Konsumen adalah setiap orang pemakai barang dan/atau jasa yang tersedia dalam
masyarakat, baik bagi kepentingan diri sendiri, keluarga, orang lain maupun makhluk hidup lain dan tidak untuk diperdagangkan.
3. Pelaku usaha adalah setiap orang perseorangan atau badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum maupun bukan badan hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun bersama-sama melalui perjanjian menyelenggarakan kegiatan usaha dalam berbagai bidang ekonomi.
4. Barang adalah setiap benda baik berwujud maupun tidak berwujud, baik bergerak
maupun tidak bergerak, dapat dihabiskan maupun tidak dapat dihabiskan, yang dapat
untuk diperdagangkan, dipakai, dipergunakan, atau dimanfaatkan oleh konsumen.
5. Jasa adalah setiap layanan yang berbentuk pekerjaan atau prestasi yang disediakan bagi masyarakat untuk dimanfaatkan oleh konsumen.
Rabu, 28 September 2011
Bentuk -Bentuk Pemasaran Melalui Internet Dengan Produk Unik ( Internet Marketing )
TVI EXPRESS INDONESIAperusahaan yang bergerak di bidang TRAVEL AGENTTENTANG TVI EXPRESS INDONESIA:TVI Express indonesia adalah Travel Ventures International adalah sebuah perusahaan multinasional ternama yang berkantor pusat di London, Inggris. TVI Express adalah perusahaan dinamis yang berdedikasi untuk memberikan konsumen berbasis gaya hidup terkini produk dan jasa travel dan hospitaliti yang paling menonjol, serta menyediakan peluang potensial untuk meningkatkan TVI Express melalui Usaha Penyaluran Independen.perusahaan menyediakan peluang usaha bagi para membernya untuk meningkatkan traf hidup, untuk meningkatkan penghasilan, agar bisa hidup layak dengan kehidupan yang lebih berkualitas.Penghasilan yang didapat oleh para membernya adalah hasil dari kerja keras yang telah dilakukan, dengan turut serta menjual produk-produk TVI Express International.Berikut ini adalah Profil lengkap perusahaan TVI Express indonesia (http://indotviexpress.wordpress.com/profil-tvi-express/)PRODUK/JASAProduk yang di tawarkan perusahaan adalah : Sepertihalnya perusahaan yang bergerak di bidang TRAVEL AGENT, TVI Express menyediakan product yang yang berhubungan dengan JASA PERJALANAN, antara lain• Tiket Penerbangan• Tiket Kapal Pesiar• Persewaan Mobil• Transaksi Hotel• Asuransi Perjalanan• Paket Perjalanan WisataTVI Express memberikan DISCOUNT kepada para membernya, apabila ingin menggunakan jasa TVI EXPRESS. Disamping itu TVI Express juga menyediakan peluang usaha bagi para membernya untuk meningkatkan traf hidup, untuk meningkatkan penghasilan, agar bisa hidup layak dengan kehidupan yang lebih berkualitas.Ingin lebih mengetahui produk / jasa yg di tawarkan perusahaan tersebut silahkan membuka link ini : http://indotviexpress.wordpress.com/product/.Info : Untuk memahami TVI Express International secara menyeluruh, saya sangat merekomendasikan untuk membuka link www.indotvi.biz. Web site support ini dikelola secara profesional yang menyajikan informasi terbaru dan fakta-fakta secara aktual dan berimbang mengenai TVI Express International.www.indotvi.bizWebsupport indoTVI.Biz adalah websupport terbesar, terbaik dan tercepat perkembangannya yang telah melahirkan ratusan multi jutawan bahkan milyarder baru di Indonesia. Sampai jumpa di puncak SUKSES !!Ferry Yulianto, ST(International Diamond)FERRY YULIANTOwww.tviexpress.com/ferrywinYour Business Partner+6287878369474+62.21-97118507BB Pin: 224531C8ferry.yulianto69@gmail.comWebsupport: www.indotvi.bizSumber: TVI EXPRESS INDONESIA kelompok kelas 3DD01 Pandu Wiranegara ( 30208949 )- Wahyu Stevanus P ( 30209804 )
Minggu, 08 Mei 2011
PENGARUH ATRIBUT PRODUK TERHADAP SIKAP KONSUMEN PADA GREEN PRODUCT COSMETICS
PENGARUH ATRIBUT PRODUK TERHADAP SIKAP
KONSUMEN PADA GREEN PRODUCT COSMETICS
(Studi Kasus pada Puri Ayu Martha Tilaar Sun Plaza Medan)
Marhayanie* dan Eka Laniasti Sihite**
* Departemen Staf Pengajar FE USU
** Alumni FE USU
Abstract
The purpose of the research is to examine the influence of the product attributes which is consist of the
product brand, product quality, product design, product label and product packing to consumer’s attitude toward
Green Product Cosmetics, that is for product of Martha Tilaar’s cosmetic.
The result of research indicate that the product attributes which is consist of the brand variable, quality,
design, label and packing are together have significant effect toward consumer’s attitude. The result also
indicates that quality variable and packing variable have positive and significant effect on consumer’s attitude
for Green Product Cosmetics, that is for product of Martha Tilaar’s cosmetic, while brand variable and label
have positive but not significant effect, and design variable has negative but not significant effect towards
consumer attitude.
Keywords: the product attributes, the consumer’s attitude
1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan produk kosmetik memberi
peluang bisnis bagi para produsen kosmetik. Peluang
bisnis tersebut menciptakan keanekaragaman produk
kosmetik atau produk perawatan kulit yang kini
beredar di pasar, yaitu dari produk lokal sampai
produk impor, dan produk yang masuk secara legal
maupun illegal, sehingga konsumen dapat memilih
produk kosmetik yang terbaik bagi dirinya, dan
produk kosmetik tersebut dapat diperoleh dengan
mudah di pusat-pusat perbelanjaan dan khususnya di
klinik kecantikan.
Saat ini banyak produk kosmetik yang beredar
menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya yang
dapat mengganggu kesehatan para pengguna
kosmetik. Menurut Badan Pengawasan Obat dan
Makanan (BPOM), bahan-bahan kimia yang
berbahaya tersebut antara lain Merkuri, Hidroquinon
lebih dari 2%, Asam retrinoat, Diethylene Glicol, zat
warna Rhodamin B dan Merah K3 serta
Chlorofluorocarbon.
Penggunaan bahan-bahan kosmetik yang
dilarang oleh BPOM tersebut dapat juga menimbulkan
masalah lingkungan. Masalah lingkungan tersebut
adalah masalah Pemanasan Global atau Global
Warming. Adanya isu lingkungan tersebut membentuk
sikap dan perilaku konsumen untuk memilih produk
yang alami, aman, dan ramah lingkungan. Oleh karena
itu perusahaan kosmetik perlu memperluas pasarnya
dengan menciptakan produk hijau kosmetik (Green
Product Cosmetics) (Johri dan Sahasakmontri, 1998:
265).
Martha Tilaar merupakan salah satu
perusahaan kosmetik yang menghasilkan produk
kosmetik bernuansa ketimuran dan mengandung
bahan alami. Produk kosmetik perusahaan Martha
Tilaar sudah dikenal sebagai salah satu produk hijau
kosmetik (Green Product Cosmetics) di dunia. Hal ini
terbukti dari hasil uji laboratorium di Paris yang
menyatakan bahwa bahan-bahan yang digunakan pada
produk Martha Tilaar bebas dari bahan-bahan kimia
berbahaya.
Konsumen dalam memilih produk terutama
produk kosmetik Martha Tilaar, mereka dapat melihat
atribut dari produk tersebut. Atribut produk yang
digunakan antara lain merek, kualitas, desain, label,
dan kemasan. Konsumen cenderung tertarik pada
produk yang memiliki merek yang terpercaya, kualitas
yang bagus, desain yang menarik, label yang dapat
menerangkan komposisi secara lengkap dari produk,
dan kemasan yang unik. Atribut produk tersebut dapat
mempengaruhi sikap dan perilaku konsumen sebelum
membeli.
2. METODE PENELITIAN
2.1 Defenisi Operasional Variabel
Defenisi variabel-variabel yang diteliti adalah
sebagai berikut:
a. Variabel Bebas
Variabel Bebas yaitu atribut produk (X). Atribut
produk ini memiliki beberapa sub variabel, yaitu:
Merek Produk (X1), yaitu nama, istilah, tanda,
simbol atau desain, atau kombinasi di antaranya
agar mudah dikenali oleh konsumen.
Kualitas Produk (X2), yaitu kualitas kinerjakemampuan
produk untuk melaksanakan fungsi
yang diharapkan konsumen.
Desain Produk (X3), yaitu desain atau bentuk,
ukuran berat, warna, dan gaya yang menarik
perhatian konsumen sehingga produk selalu
diingat.
Label Produk (X4), yaitu mengidentifikasi produk
atau merek melalui keterangan-keterangan yang
tertera di produk tersebut.
Kemasan Produk (X5), yaitu pembungkus fisik
untuk melindungi produk dan sekaligus
menciptakan identitas unik kepada konsumen.
b. Variabel Terikat
Variabel Terikat yaitu Sikap Konsumen (Y).
Sikap konsumen yaitu menjelaskan motivasi,
perasaan emosional, proses kognitif terhadap
suatu objek oleh konsumen.
2.2 Skala Pengukuran Variabel
Pengukuran atribut produk terhadap sikap
konsumen pada Green Product Cosmetics, melalui
skala likert digunakan dengan lima tingkatan yang
diberi skor sebagai berikut (Sekaran, 2006: 31):
a. Sangat setuju diberi skor lima
b. Setuju diberi skor empat
c. Ragu-ragu diberi skor tiga
d. Tidak setuju diberi skor dua
e. Sangat tidak setuju diberi skor satu
2.3 Populasi dan Sampel
a. Populasi
Berdasarkan pra-survei yang dilakukan
peneliti, diketahui bahwa jumlah para pengunjung
Puri Ayu Martha Tilaar sejak bulan Januari sampai
bulan Maret 2008 sebanyak 2812 orang, dengan ratarata
populasi dalam sebulan adalah 937,33 dan
dibulatkan menjadi 937 orang.
b. Sampel
Penetapan jumlah sampel dilakukan dengan
menggunakan rumus Slovin. Berdasarkan perhitungan
diperoleh sampel sebanyak 90,35 responden dan
dibulatkan menjadi 90 responden.
Pemilihan sampel dilakukan dengan
menggunakan metode purposive random sampling,
yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan
karakter dan ciri-ciri yang ditentukan terlebih dahulu
untuk membatasi sampel (Sugiyono, 2004: 78).
Adapun karakter yang ditentukan adalah pengunjung
yang pernah dan sedang melakukan pembelian,
minimal telah 2 kali melakukan pembelian kosmetik
mulai dari januari 2008 sampai penelitian dilakukan,
dan telah berusia 17 tahun, sebagai pelanggan dewasa
yang dapat mengambil keputusan pembelian atau
paling tidak mempengaruhi keputusan pembelia
2.4 Metode Analisis Data
a. Analisis Deskriptif
Metode analisis deskriptif merupakan metode
yang digunakan dengan mengadakan pengumpulan
data dan penganalisaaan data yang diperoleh sehingga
dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai
fakta-fakta dan sifat-sifat serta hubungan antar
fenomena yang diteliti.
b. Analisis Statistik
1. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis Regresi Linier Berganda digunakan
untuk mengetahui pengaruh dari variabel
bebas (Merek produk, kualitas produk, desain
produk, label produk, dan kemasan produk)
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 1, Januari 2008: 10 - 17
12
terhadap variabel terikat (Sikap konsumen).
Dengan persamaan yang digunakan adalah:
Y=a+b1X1+b2X2+b3X3+b4X4+b5X5+e
Keterangan:
Y = Sikap Konsumen
a = Konstanta
b1,b2,b3,b4,b5 = Koefisien Regresi Berganda
X1 = Variabel Merek Produk
X2 = Variabel Kualitas Produk
X3 = Variabel Desain Produk
X4 = Variabel Label Produk
X5 = Variabel Kemasan Produk
e = Standard Error
Sebelum data tersebut dianalisis, model
regresi berganda di atas harus memenuhi syarat
asumsi klasik, yaitu Uji Normalitas, Uji
Multikolonieritas, Uji Autokorelasi, Uji
Heteroskedastisitas. Model regresi yang sudah
memenuhi syarat asumsi klasik tersebut akan
digunakan untuk menganalisis, melalui pengujian
hipotesis sebagai berikut:
1. Pengujian Koefisien Determinan (R2) atau
Goodness of Fit Test
Digunakan untuk melihat besar pengaruh variabel
bebas terhadap variabel terikat. Dari persamaan
dengan model persamaan tersebut akan dapat R2
atau Coefficient of Determination yang
menunjukkan persentase dari variasi variabel
keputusan pembelian yang mampu dijelaskan
oleh model.
Jika determinan (R2) semakin besar atau
mendekati sama, maka variabel bebas (X1, X2, X3,
X4, X5) terhadap variabel terikat (Y) semakin
kuat.
Jika determinan (R2) semakin kecil atau
mendekati satu, maka variabel terikat (Y) semakin
kecil.
2. Uji Serempak (Uji F)
Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui
apakah terdapat secara bersama-sama variabel
bebas terhadap variabel terikat. Uji F dilakukan
secara serentak untuk membuktikan hipotesis
awal tentang pengaruh atribut produk melalui
variabel merek produk (X1), kualitas produk (X2),
desain produk (X3), label produk (X4), kemasan
produk (X5) sebagai variabel bebas, terhadap
sikap konsumen (Y) sebagai variabel terikat.
Pengambilan keputusannya dengan
membandingkan nilai Fhitung dengan nilai Ftabel.
Bila Fhitung lebih besar dari nilai Ftabel maka dapat
disimpulkan bahwa variabel bebas dalam model
mempengaruhi variabel terikat.
Model hipotesis yang digunakan adalah:
H0: b1 = b2 = b3 = b4 = b5=0 artinya variabel bebas
(X1, X2, X3, X4, X5) secara bersama-sama tidak
berpengaruh positif dan signifikan terhadap
variabel terikat (Y).
H0: b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ b4 ≠ b5 artinya variabel bebas
(X1, X2, X3, X4, X5) secara bersama-sama
berpengaruh positif dan signifikan terhadap
variabel terikat (Y).
Nilai Fhitung akan dibandingkan dengan nilai Ftabel.
Kriteria pengambilan keputusan, yaitu:
H0 diterima bila Fhitung < Ftabel pada α = 5%
H0 ditolak bila Fhitung > Ftabel pada α = 5%
3. Uji secara Parsial (Uji-t).
Uji t bertujuan untuk mengetahui pengaruh
variabel bebas terhadap variabel terikat secara
parsial. Variabel bebas dikatakan berpengaruh
terhadap variabel terikat bisa dilihat dari
probabilitas variabel bebas dibandingkan dengan
tingkat kesalahannya (α). Jika probabilitas
variabel bebas lebih besar dari tingkat
kesalahannya (α) maka variabel bebas tidak
berpengaruh, tetapi jika probabilitas variabel
bebas lebih kecil dari tingkat kesalahannya (α)
maka variabel bebas tersebut berpengaruh
terhadap variabel terikat.
Model pengujiannya adalah:
H0 = bi = 0, artinya variabel bebas secara parsial
tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap
variabel terikat.
Ha: bi ≠ 0, artinya variabel bebas secara parsial
berpengaruh positif dan signifikan terhadap
variabel terikat.
Nilai Thitung akan dibandingkan dengan nilai Ttabel.
Kriteria pengambilan keputusan, yaitu:
H0 diterima bila Thitung < Ttabel pada α = 5%
H0 ditolak bila Thitung > Ttabel pada α = 5%
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian
hipotesis yang telah diuraikan sebelumnya, maka
dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat Pengaruh
Atribut Produk terhadap Sikap Konsumen pada Green
Product Cosmetics (Studi Kasus pada Puri Ayu
Martha Tilaar Sun Plaza Medan), dengan penjelasan
sebagai berikut:
1. Uji Signifikan Simultan (Uji F) membuktikan
bahwa atribut produk yang terdiri dari variabel
merek, kualitas, desain, label dan kemasan secara
bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap
sikap konsumen.
2. Uji Signifikan Parsial (Uji-t) membuktikan bahwa
variabel kualitas (X2) dan variabel kemasan (X5)
berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap
konsumen pada Green Product Cosmetics, yaitu
pada produk kosmetik Martha Tilaar, sedangkan
merek (X1), desain (X3) dan label (X4)
berpengaruh positif dan negatif namun tidak
signifikan terhadap sikap konsumen.
5. SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
diperoleh dan keterbatasan yang ada dalam penelitian
ini, maka mengharuskan peneliti untuk memberikan
sarannya, dengan memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel
yang berpengaruh paling dominan adalah
kemasan produk, maka bagi pihak perusahaan
Martha Tilaar diharapkan dapat mempertahankan
dan meningkatkan nilai kemasan produk
kosmetiknya, agar sikap konsumen tidak beralih
kepada produk yang lain. Sedangkan kualitas
berpengaruh secara signifikan setelah kemasan,
hal ini membuktikan bahwa kualitas produk
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 1, Januari 2008: 10 - 17
16
kosmetik Martha Tilaar harus ditingkatkan agar
konsumen semakin yakin terhadap kualitas
produk kosmetik tersebut sebagai Green Product
Cosmetics.
2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel
merek dan label berpengaruh secara positif,
sedangkan variabel desain berpengaruh negatif.
Perusahaan Martha Tilaar dalam hal ini, harus
dapat meningkatkan citra merek kosmetiknya,
agar merek semakin dikenal oleh konsumen, dan
label produk yang jelas sebaiknya dapat terus
ditingkatkan oleh pihak perusahaan agar
konsumen semakin percaya kepada produk
kosmetik Martha Tilaar. Variabel desain dalam
penelitian ini berpengaruh negatif, olehsebab itu
kepada perusahaan Martha Tilaar harus dapat
meningkatkan desain produk kosmetiknya agar
konsumen semakin tertarik dan menyukai produk
kosmetik tersebut.
3. Bagi peneliti selanjutnya yang akan meneliti
mengenai sikap konsumen pada Green Product
Cosmetics, disarankan dapat menambah variabelvariabel
yang berbeda dengan variabel yang
sebelumnya untuk memperkaya pengetahuan
tentang faktor-faktor yang mempengaruhi sikap
konsumen pada Green Product Cosmetics dan
melibatkan jumlah responden yang lebih besar
sehingga mendapatkan hasil yang lebih akurat.
Pandu wiranegara :30208949
Adik Tri Kustanto : 34209443
Wahyu Stevanus P ( 30209804 )
KONSUMEN PADA GREEN PRODUCT COSMETICS
(Studi Kasus pada Puri Ayu Martha Tilaar Sun Plaza Medan)
Marhayanie* dan Eka Laniasti Sihite**
* Departemen Staf Pengajar FE USU
** Alumni FE USU
Abstract
The purpose of the research is to examine the influence of the product attributes which is consist of the
product brand, product quality, product design, product label and product packing to consumer’s attitude toward
Green Product Cosmetics, that is for product of Martha Tilaar’s cosmetic.
The result of research indicate that the product attributes which is consist of the brand variable, quality,
design, label and packing are together have significant effect toward consumer’s attitude. The result also
indicates that quality variable and packing variable have positive and significant effect on consumer’s attitude
for Green Product Cosmetics, that is for product of Martha Tilaar’s cosmetic, while brand variable and label
have positive but not significant effect, and design variable has negative but not significant effect towards
consumer attitude.
Keywords: the product attributes, the consumer’s attitude
1.1 Latar Belakang Masalah
Perkembangan produk kosmetik memberi
peluang bisnis bagi para produsen kosmetik. Peluang
bisnis tersebut menciptakan keanekaragaman produk
kosmetik atau produk perawatan kulit yang kini
beredar di pasar, yaitu dari produk lokal sampai
produk impor, dan produk yang masuk secara legal
maupun illegal, sehingga konsumen dapat memilih
produk kosmetik yang terbaik bagi dirinya, dan
produk kosmetik tersebut dapat diperoleh dengan
mudah di pusat-pusat perbelanjaan dan khususnya di
klinik kecantikan.
Saat ini banyak produk kosmetik yang beredar
menggunakan bahan-bahan kimia berbahaya yang
dapat mengganggu kesehatan para pengguna
kosmetik. Menurut Badan Pengawasan Obat dan
Makanan (BPOM), bahan-bahan kimia yang
berbahaya tersebut antara lain Merkuri, Hidroquinon
lebih dari 2%, Asam retrinoat, Diethylene Glicol, zat
warna Rhodamin B dan Merah K3 serta
Chlorofluorocarbon.
Penggunaan bahan-bahan kosmetik yang
dilarang oleh BPOM tersebut dapat juga menimbulkan
masalah lingkungan. Masalah lingkungan tersebut
adalah masalah Pemanasan Global atau Global
Warming. Adanya isu lingkungan tersebut membentuk
sikap dan perilaku konsumen untuk memilih produk
yang alami, aman, dan ramah lingkungan. Oleh karena
itu perusahaan kosmetik perlu memperluas pasarnya
dengan menciptakan produk hijau kosmetik (Green
Product Cosmetics) (Johri dan Sahasakmontri, 1998:
265).
Martha Tilaar merupakan salah satu
perusahaan kosmetik yang menghasilkan produk
kosmetik bernuansa ketimuran dan mengandung
bahan alami. Produk kosmetik perusahaan Martha
Tilaar sudah dikenal sebagai salah satu produk hijau
kosmetik (Green Product Cosmetics) di dunia. Hal ini
terbukti dari hasil uji laboratorium di Paris yang
menyatakan bahwa bahan-bahan yang digunakan pada
produk Martha Tilaar bebas dari bahan-bahan kimia
berbahaya.
Konsumen dalam memilih produk terutama
produk kosmetik Martha Tilaar, mereka dapat melihat
atribut dari produk tersebut. Atribut produk yang
digunakan antara lain merek, kualitas, desain, label,
dan kemasan. Konsumen cenderung tertarik pada
produk yang memiliki merek yang terpercaya, kualitas
yang bagus, desain yang menarik, label yang dapat
menerangkan komposisi secara lengkap dari produk,
dan kemasan yang unik. Atribut produk tersebut dapat
mempengaruhi sikap dan perilaku konsumen sebelum
membeli.
2. METODE PENELITIAN
2.1 Defenisi Operasional Variabel
Defenisi variabel-variabel yang diteliti adalah
sebagai berikut:
a. Variabel Bebas
Variabel Bebas yaitu atribut produk (X). Atribut
produk ini memiliki beberapa sub variabel, yaitu:
Merek Produk (X1), yaitu nama, istilah, tanda,
simbol atau desain, atau kombinasi di antaranya
agar mudah dikenali oleh konsumen.
Kualitas Produk (X2), yaitu kualitas kinerjakemampuan
produk untuk melaksanakan fungsi
yang diharapkan konsumen.
Desain Produk (X3), yaitu desain atau bentuk,
ukuran berat, warna, dan gaya yang menarik
perhatian konsumen sehingga produk selalu
diingat.
Label Produk (X4), yaitu mengidentifikasi produk
atau merek melalui keterangan-keterangan yang
tertera di produk tersebut.
Kemasan Produk (X5), yaitu pembungkus fisik
untuk melindungi produk dan sekaligus
menciptakan identitas unik kepada konsumen.
b. Variabel Terikat
Variabel Terikat yaitu Sikap Konsumen (Y).
Sikap konsumen yaitu menjelaskan motivasi,
perasaan emosional, proses kognitif terhadap
suatu objek oleh konsumen.
2.2 Skala Pengukuran Variabel
Pengukuran atribut produk terhadap sikap
konsumen pada Green Product Cosmetics, melalui
skala likert digunakan dengan lima tingkatan yang
diberi skor sebagai berikut (Sekaran, 2006: 31):
a. Sangat setuju diberi skor lima
b. Setuju diberi skor empat
c. Ragu-ragu diberi skor tiga
d. Tidak setuju diberi skor dua
e. Sangat tidak setuju diberi skor satu
2.3 Populasi dan Sampel
a. Populasi
Berdasarkan pra-survei yang dilakukan
peneliti, diketahui bahwa jumlah para pengunjung
Puri Ayu Martha Tilaar sejak bulan Januari sampai
bulan Maret 2008 sebanyak 2812 orang, dengan ratarata
populasi dalam sebulan adalah 937,33 dan
dibulatkan menjadi 937 orang.
b. Sampel
Penetapan jumlah sampel dilakukan dengan
menggunakan rumus Slovin. Berdasarkan perhitungan
diperoleh sampel sebanyak 90,35 responden dan
dibulatkan menjadi 90 responden.
Pemilihan sampel dilakukan dengan
menggunakan metode purposive random sampling,
yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan
karakter dan ciri-ciri yang ditentukan terlebih dahulu
untuk membatasi sampel (Sugiyono, 2004: 78).
Adapun karakter yang ditentukan adalah pengunjung
yang pernah dan sedang melakukan pembelian,
minimal telah 2 kali melakukan pembelian kosmetik
mulai dari januari 2008 sampai penelitian dilakukan,
dan telah berusia 17 tahun, sebagai pelanggan dewasa
yang dapat mengambil keputusan pembelian atau
paling tidak mempengaruhi keputusan pembelia
2.4 Metode Analisis Data
a. Analisis Deskriptif
Metode analisis deskriptif merupakan metode
yang digunakan dengan mengadakan pengumpulan
data dan penganalisaaan data yang diperoleh sehingga
dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai
fakta-fakta dan sifat-sifat serta hubungan antar
fenomena yang diteliti.
b. Analisis Statistik
1. Analisis Regresi Linier Berganda
Analisis Regresi Linier Berganda digunakan
untuk mengetahui pengaruh dari variabel
bebas (Merek produk, kualitas produk, desain
produk, label produk, dan kemasan produk)
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 1, Januari 2008: 10 - 17
12
terhadap variabel terikat (Sikap konsumen).
Dengan persamaan yang digunakan adalah:
Y=a+b1X1+b2X2+b3X3+b4X4+b5X5+e
Keterangan:
Y = Sikap Konsumen
a = Konstanta
b1,b2,b3,b4,b5 = Koefisien Regresi Berganda
X1 = Variabel Merek Produk
X2 = Variabel Kualitas Produk
X3 = Variabel Desain Produk
X4 = Variabel Label Produk
X5 = Variabel Kemasan Produk
e = Standard Error
Sebelum data tersebut dianalisis, model
regresi berganda di atas harus memenuhi syarat
asumsi klasik, yaitu Uji Normalitas, Uji
Multikolonieritas, Uji Autokorelasi, Uji
Heteroskedastisitas. Model regresi yang sudah
memenuhi syarat asumsi klasik tersebut akan
digunakan untuk menganalisis, melalui pengujian
hipotesis sebagai berikut:
1. Pengujian Koefisien Determinan (R2) atau
Goodness of Fit Test
Digunakan untuk melihat besar pengaruh variabel
bebas terhadap variabel terikat. Dari persamaan
dengan model persamaan tersebut akan dapat R2
atau Coefficient of Determination yang
menunjukkan persentase dari variasi variabel
keputusan pembelian yang mampu dijelaskan
oleh model.
Jika determinan (R2) semakin besar atau
mendekati sama, maka variabel bebas (X1, X2, X3,
X4, X5) terhadap variabel terikat (Y) semakin
kuat.
Jika determinan (R2) semakin kecil atau
mendekati satu, maka variabel terikat (Y) semakin
kecil.
2. Uji Serempak (Uji F)
Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui
apakah terdapat secara bersama-sama variabel
bebas terhadap variabel terikat. Uji F dilakukan
secara serentak untuk membuktikan hipotesis
awal tentang pengaruh atribut produk melalui
variabel merek produk (X1), kualitas produk (X2),
desain produk (X3), label produk (X4), kemasan
produk (X5) sebagai variabel bebas, terhadap
sikap konsumen (Y) sebagai variabel terikat.
Pengambilan keputusannya dengan
membandingkan nilai Fhitung dengan nilai Ftabel.
Bila Fhitung lebih besar dari nilai Ftabel maka dapat
disimpulkan bahwa variabel bebas dalam model
mempengaruhi variabel terikat.
Model hipotesis yang digunakan adalah:
H0: b1 = b2 = b3 = b4 = b5=0 artinya variabel bebas
(X1, X2, X3, X4, X5) secara bersama-sama tidak
berpengaruh positif dan signifikan terhadap
variabel terikat (Y).
H0: b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ b4 ≠ b5 artinya variabel bebas
(X1, X2, X3, X4, X5) secara bersama-sama
berpengaruh positif dan signifikan terhadap
variabel terikat (Y).
Nilai Fhitung akan dibandingkan dengan nilai Ftabel.
Kriteria pengambilan keputusan, yaitu:
H0 diterima bila Fhitung < Ftabel pada α = 5%
H0 ditolak bila Fhitung > Ftabel pada α = 5%
3. Uji secara Parsial (Uji-t).
Uji t bertujuan untuk mengetahui pengaruh
variabel bebas terhadap variabel terikat secara
parsial. Variabel bebas dikatakan berpengaruh
terhadap variabel terikat bisa dilihat dari
probabilitas variabel bebas dibandingkan dengan
tingkat kesalahannya (α). Jika probabilitas
variabel bebas lebih besar dari tingkat
kesalahannya (α) maka variabel bebas tidak
berpengaruh, tetapi jika probabilitas variabel
bebas lebih kecil dari tingkat kesalahannya (α)
maka variabel bebas tersebut berpengaruh
terhadap variabel terikat.
Model pengujiannya adalah:
H0 = bi = 0, artinya variabel bebas secara parsial
tidak berpengaruh positif dan signifikan terhadap
variabel terikat.
Ha: bi ≠ 0, artinya variabel bebas secara parsial
berpengaruh positif dan signifikan terhadap
variabel terikat.
Nilai Thitung akan dibandingkan dengan nilai Ttabel.
Kriteria pengambilan keputusan, yaitu:
H0 diterima bila Thitung < Ttabel pada α = 5%
H0 ditolak bila Thitung > Ttabel pada α = 5%
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisis data dan pengujian
hipotesis yang telah diuraikan sebelumnya, maka
dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat Pengaruh
Atribut Produk terhadap Sikap Konsumen pada Green
Product Cosmetics (Studi Kasus pada Puri Ayu
Martha Tilaar Sun Plaza Medan), dengan penjelasan
sebagai berikut:
1. Uji Signifikan Simultan (Uji F) membuktikan
bahwa atribut produk yang terdiri dari variabel
merek, kualitas, desain, label dan kemasan secara
bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap
sikap konsumen.
2. Uji Signifikan Parsial (Uji-t) membuktikan bahwa
variabel kualitas (X2) dan variabel kemasan (X5)
berpengaruh positif dan signifikan terhadap sikap
konsumen pada Green Product Cosmetics, yaitu
pada produk kosmetik Martha Tilaar, sedangkan
merek (X1), desain (X3) dan label (X4)
berpengaruh positif dan negatif namun tidak
signifikan terhadap sikap konsumen.
5. SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang telah
diperoleh dan keterbatasan yang ada dalam penelitian
ini, maka mengharuskan peneliti untuk memberikan
sarannya, dengan memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel
yang berpengaruh paling dominan adalah
kemasan produk, maka bagi pihak perusahaan
Martha Tilaar diharapkan dapat mempertahankan
dan meningkatkan nilai kemasan produk
kosmetiknya, agar sikap konsumen tidak beralih
kepada produk yang lain. Sedangkan kualitas
berpengaruh secara signifikan setelah kemasan,
hal ini membuktikan bahwa kualitas produk
Jurnal Manajemen Bisnis, Volume 1, Nomor 1, Januari 2008: 10 - 17
16
kosmetik Martha Tilaar harus ditingkatkan agar
konsumen semakin yakin terhadap kualitas
produk kosmetik tersebut sebagai Green Product
Cosmetics.
2. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa variabel
merek dan label berpengaruh secara positif,
sedangkan variabel desain berpengaruh negatif.
Perusahaan Martha Tilaar dalam hal ini, harus
dapat meningkatkan citra merek kosmetiknya,
agar merek semakin dikenal oleh konsumen, dan
label produk yang jelas sebaiknya dapat terus
ditingkatkan oleh pihak perusahaan agar
konsumen semakin percaya kepada produk
kosmetik Martha Tilaar. Variabel desain dalam
penelitian ini berpengaruh negatif, olehsebab itu
kepada perusahaan Martha Tilaar harus dapat
meningkatkan desain produk kosmetiknya agar
konsumen semakin tertarik dan menyukai produk
kosmetik tersebut.
3. Bagi peneliti selanjutnya yang akan meneliti
mengenai sikap konsumen pada Green Product
Cosmetics, disarankan dapat menambah variabelvariabel
yang berbeda dengan variabel yang
sebelumnya untuk memperkaya pengetahuan
tentang faktor-faktor yang mempengaruhi sikap
konsumen pada Green Product Cosmetics dan
melibatkan jumlah responden yang lebih besar
sehingga mendapatkan hasil yang lebih akurat.
Pandu wiranegara :30208949
Adik Tri Kustanto : 34209443
Wahyu Stevanus P ( 30209804 )
Langganan:
Postingan (Atom)